Tuesday, September 20, 2005

Identitas

Catatan: Blog ini bebas dari jargon Orde Baru dan polemik suku bangsa.

Pencerahan?

Pencerahan hari ini?

Saat kita bangun kita nggak tau apa yang akan terjadi hari ini. Dan begitulah hari ini.
Hari ini William makan siang jam 11.30. Hari ini Tito ke perpustakaan. Hari ini Dimas makan dulu jam 4.05.

Dan hari ini kebimbangan tentang identitas pribadi gua (mungkin) terjawab.

Benih revolusi 19 September ini mulai saat Sabtu malem gua mikir…secara fisik gua paling suka gadis Tionghoa, tapi dari pengalaman, gua lebih comfort sama gadis pribumi, terutama Jawa.

Dan itulah benih ke peristiwa-peristiwa hari ini. Gua ngobrol sama Tito dan William. Menyenangkan sekali, open mind sekali, terbuka sekali. Kita jujur pada diri kita, kita jujur pada istilah, kita merayakan identitas kita sebagai pemuda Jawa, pemuda Tionghoa Sunda Jawa, dan pemuda Inggris Jawa yang berkewarganegaraan Indonesia. Open mind, kuncinya. Kita belajar bersama, membagi pengetahuan, opini.

Hari ini juga terbukti gua masih sangat nasionalis. Gua reflek menyanggah dosen gua yang bilang Belanda dan Perancis ga mendirikan universitas di Hindia Belanda dan Indocina. Dan dengan tepat dia membalas sanggahan gua kalo ITB bukanlah universitas, hanya politeknik.

Hal lain yang gua renungkan dari ‘reflek’ itu. Gua ga memaksakan ‘ Indonesiabagus’, ‘
Indonesia ga boleh dicela’. Sama sekali tidak. Gua hanya berpegang pada kebenaran fakta, fakta sejarah, sejarah dunia. Ya ya tidak tidak. Simple.

Indonesia sekarang keadaannya begini bukan salah gua, Indonesia sekarang keadaannya gini adalah urusan gua, Indonesia sekarang keadaannya begini adalah proses sejarah. Bukan hal baru, bukan murni hal yang disebabkan pemerintah sekarang. Tiga kejadian - perdamaian di Aceh, harga BBM, kurs Rupiah bukan murni karena kesalahan kebijakan pemerintahan sekarang. Semuanya proses kejadian dunia, proses yang saling berkaitan, bukan hasil program tadi malem.

Kembali ke cerita gua. Hari ini gua berkesimpulan bahwa gua adalah pemuda Indonesia, bersuku Tionghoa-Sunda-Jawa. Tiga suku ini adalah tiga menjadi satu, tiga-tiganya nggak terpisahkan. Gua secara fisik paling mendekati Tionghoa. Jadi Tionghoa itu nggak lebih baik atau lebih jelek. Jadi Tionghoa adalah jadi Tionghoa. Diskriminasi, rasisme? Fakta hidup. Rasisme dari Tionghoa juga ada, juga parah. Bukan mata balas mata, tapi nggak ada yang lebih baik, nggak ada yang lebih mulia.

Gua akan mengalami diskriminasi hukum di Indonesia. Gua akan menerima penolakan dari orang-orang Jawa dan Sunda. Lalu dimanakah gua akan merasa aman? Nggak dimana-mana. Rasa aman, rasa damai itu adalah air. Tak berbentuk, tak berwujud, tapi ada dan kuat.

Dan abadi.

Sekali lagi ini bukan ramalan masa depan. Gua nggak mau bilang pasti kalo gua akan selamanya berkewarganegaraan Indonesia, kalo gua selamanya akan tinggal di Indonesia. Maksud gua, hari ini identitas pribadi gua mungkin telah gua temukan. Gua nggak ada ikatan batin dengan orang-orang berlatar belakang Cina.

Gua ada ikatan batin dengan orang-orang berbangsa Indonesia.

“We are no longer Greeks” kata Herder, cendekia Jerman, salah satu penyusun ide aliran kesusastraan Gothik (maksudnya para cendekia Jerman ga usah ikut2an penulis Inggris dan Perancis yang gila kesustraaan Latin).

“I am no longer Chinese.” kata gua.

“Who are you then?”

“I am Indonesian.”

“What is Indonesian?”

“I am Tionghoan. I am Sundanese. I am Javanese. I am Catholic. I am all of them, I am none of them.”

(Ide dari pernyataan seorang cendekia Inggris di Introduction Cultural Studies karangan Zianudin Sardar “I can say that I am British, Muslim, Asian...what the differences they make on me? I can be one of them and none of them”).

Listening to: Slank feat. Yoon Band – Shout! Asia
Reading: Francis Fukuyama - The End of History and the Last Man
Thinking about: Manifest weekend ini.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home


Counters