Padang Bunga Jepang
Listening to: スキマスイッチ : 全力少年
Reading: Otobiografi Oei King Hian, dokter gigi Soekarno
Phara: Gua makan malem sama Sawung Jabo.
Orangnya kalem, pengetahuannya luas, dan OPTIMIS. Dia gampang liat segi positif.
Berkumis, masih pake bandana, gondrong. Istrinya jauh lebih sopsthicated, Bahasa Indonesianya sangat bagus. Ketemu dia gara2 tadi pagi Tito cerita wayang cybernya Heri Dono (bener ini namanya, pasti dari sekolah dia udah bosen diledek namanya), gua tadi sore nonton itu aja setelah karaoke sama gadis2 ABC (Australian Born Chinese) batal.
Syukurlah Sawung Jabo optimis. Karena beberapa jam sebelumnya gua ngobrol sama Bela Kusuma (selalu ingetnya Bela Nusantara), bekas staff Bank Dunia. Pesimis banget sama Indonesia. Ga tau juga apa karena Sawung Jabo Jawa Timur jadi ngomongnya ga sepedes Bela Kusuma, Batak Sunda, hehe.
Bukan Setan-Malaikat ya, tapi di tengah kebingungan gua tentang taun depan (satu sisi gua cinta budaya dan masyarakat Indonesia, sisi lain diri gua lagi di tengah padang bunga Jepang), ada dua pendapat berbeda tentang Indonesia dari orang2 yg saling menghargai (mereka juga duduknya sebelahan di depan gua) dan brilian. Gua udah dua kali ketemu Bela, waktu SBY ke seminarnya Asialink sama waktu dialog Indonesia-Timtim di La Trobe.
Optimisme Sawung (Sawung? Sawung Kampret?) gua ambil sepenuhnya lah. Sementara dari Bela dia ninggalin pesen ke gua:
"Jangan pernah kehilangan prinsipmu."
Dan apa artinya prinsip, apa artinya teorinya Imagined Communities Anderson dan debat di Ajangkita kalo gua lagi tenggelam di padang bunga Jepang? Gua lagi pengen punya pacar, bukan memperbaiki Indonesia. Damn krisis BBM, damn perlawanan korupsi. Gua pengen punya cewek yg gua pegang tangannya, yg dengan tenang menunjukkan kelemahan argumen gua, yang berdiri bareng di kereta.
Penawar luka malem ini lumayan gampang. Tinggal ketik satu e-mail pertemanan.
Tapi ada dua duri lain di dalem hati gua yg sakit sekali, satunya satu sebab gua ga suka Australia. Gua pengen hilangkan duri ini.
Di tengah taman bunga Jepang, bisakah gua menatap kenyataan yg bernama Indonesia?
Reading: Otobiografi Oei King Hian, dokter gigi Soekarno
Phara: Gua makan malem sama Sawung Jabo.
Orangnya kalem, pengetahuannya luas, dan OPTIMIS. Dia gampang liat segi positif.
Berkumis, masih pake bandana, gondrong. Istrinya jauh lebih sopsthicated, Bahasa Indonesianya sangat bagus. Ketemu dia gara2 tadi pagi Tito cerita wayang cybernya Heri Dono (bener ini namanya, pasti dari sekolah dia udah bosen diledek namanya), gua tadi sore nonton itu aja setelah karaoke sama gadis2 ABC (Australian Born Chinese) batal.
Syukurlah Sawung Jabo optimis. Karena beberapa jam sebelumnya gua ngobrol sama Bela Kusuma (selalu ingetnya Bela Nusantara), bekas staff Bank Dunia. Pesimis banget sama Indonesia. Ga tau juga apa karena Sawung Jabo Jawa Timur jadi ngomongnya ga sepedes Bela Kusuma, Batak Sunda, hehe.
Bukan Setan-Malaikat ya, tapi di tengah kebingungan gua tentang taun depan (satu sisi gua cinta budaya dan masyarakat Indonesia, sisi lain diri gua lagi di tengah padang bunga Jepang), ada dua pendapat berbeda tentang Indonesia dari orang2 yg saling menghargai (mereka juga duduknya sebelahan di depan gua) dan brilian. Gua udah dua kali ketemu Bela, waktu SBY ke seminarnya Asialink sama waktu dialog Indonesia-Timtim di La Trobe.
Optimisme Sawung (Sawung? Sawung Kampret?) gua ambil sepenuhnya lah. Sementara dari Bela dia ninggalin pesen ke gua:
"Jangan pernah kehilangan prinsipmu."
Dan apa artinya prinsip, apa artinya teorinya Imagined Communities Anderson dan debat di Ajangkita kalo gua lagi tenggelam di padang bunga Jepang? Gua lagi pengen punya pacar, bukan memperbaiki Indonesia. Damn krisis BBM, damn perlawanan korupsi. Gua pengen punya cewek yg gua pegang tangannya, yg dengan tenang menunjukkan kelemahan argumen gua, yang berdiri bareng di kereta.
Penawar luka malem ini lumayan gampang. Tinggal ketik satu e-mail pertemanan.
Tapi ada dua duri lain di dalem hati gua yg sakit sekali, satunya satu sebab gua ga suka Australia. Gua pengen hilangkan duri ini.
Di tengah taman bunga Jepang, bisakah gua menatap kenyataan yg bernama Indonesia?
0 Comments:
Post a Comment
<< Home