Sunday, November 06, 2005

Asal Usul Kompas hari ini


Fariduddin Attar, guru Jalalluddin Rumi, penyair dan sufi terbesar dari
Persia, menuturkan kerinduan sekelompok burung terhadap raja mereka. Maka,
mereka pun sepakat menunjuk Hud-hud, burung yang bijak, sebagai pemimpin.

Hud-hud memberi tahu, yang mereka cari itu burung Simurgh, dalam bahasa
Persi, artinya tiga puluh burung, yang hidup tersembunyi di gunung Kaf, tempat
yang jauh, dan berbahaya. Untuk mencapai tempat itu mereka harus menempuh lima
lembah dan dua gurun sahara.

Mendengar cerita itu, mereka yang berjiwa lemah, yaitu Nuri, Merak,
Angsa, Bangau, Bul-bul, dan burung Hantu, mengemukakan berbagai alasan untuk
tidak ikut.

Si Nuri yang egois, memilih mencari ”cawan suci”, Merak, si burung
surga, lebih baik menanti panggilan kembali ke surga, Bul-bul, yang merasa
memahami rahasia cinta, menumpahkan cintanya pada bunga mawar, dan Bangau,
pencinta air, membual:
”Cintaku pada air membuatku selalu termenung di tepi
pantai, namun aku toh tak setitik pun meminum airnya, karena khawatir begitu aku
minum, samodra raya itu langsung kering kerontang.”

Hud-hud memberi rangsangan dengan cerita mengenai petualangan menarik
dalam perjalanan ke Gunung Kaf, di istana raja mereka.

Karena itu, perjalanan pun dimulai. Tapi baru saja menempuh dua lembah,
mereka mengeluh, dan merasa gentar membayangkan perjalanan selanjutnya.

Satu-satunya jalan agar mereka mengerti dan sadar, Hud-hud, harus terus
terang bahwa mereka harus menempuh tujuh lembah dan gurun, yang semuanya
memikat, simbolik, dan bermakna secara rohaniah. Burung-burung itu pun merasa
gembira dan bersemangat lagi.
Kali ini korban berjatuhan. Ada yang mati
karena udara sangat panas, ada yang tenggelam di laut, ada yang kelelahan, ada
yang kehausan tak berdaya. Dan ada pula yang tersesat.

Sisanya tetap meneruskan perjalanan hingga tiba di Gunung Kaf yang
mereka impikan. Di pintu gerbang mereka diperlakukan kasar oleh para penjaga.
Tapi mereka sudah terbiasa dengan kesukaran. Maka, pelayan pun menjemput, dan
menunjukkan mereka jalan ke ruang Baginda.
Di dalam, burung-burung itu
keheranan karena mereka memasuki ruang hampa, luas tak terbatas. Dalam termangu
mereka saling memandang. Di mana Baginda raja yang mereka rindukan? Di sana
mereka temukan Simurgh, tiga puluh burung, yang ternyata diri mereka
sendiri.

Dalam kerinduan mencari sang raja, ternyata mereka hanya menemukan diri
mereka sendiri.
”Sang raja tersingkap di dalam cermin kalbu-kalbu mereka
sendiri,” kata Attar.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home


Counters