Wednesday, November 02, 2005

Tantang keberagamaanmu

Agama, apabila harus direnungkan, sebenarnya tidak cukup hanya menjalankan ritual. Agama lebih dari itu, sebagai penghayatan rohani, bagaimanapun amat dibutuhkan interpretasi, perspektif, dan kesadaran yang dinamis. Sebab, seperti puasa, orang bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk sambil berharap mendapat pahala dan ampunan-Nya meski tanpa harus memetik perspektif kesadaran yang bersifat emansipatoris.

Dari mana semangat emansipasi semacam itu bisa muncul dalam ibadah puasa, meski mereka yang melaksanakannya dengan perjuangan spiritual yang gigih berhasil menahan lapar dan dahaga di siang hari, toh kebanyakan teks makna puasa yang disampaikan para dai dan ustadz tidak menyentuhnya ke wilayah itu.

Akhirnya, semua tergantung kita. Dari sudut pandang mana kita hendak memberi makna ritual yang dilakukan sendiri, apakah puasa dimaksudkan sebagai penyucian dosa, atau sebagai mekanisme refleksif guna memperluas pandangan hidup, atau bisa juga bagian untuk sekadar memperkuat pencitraan diri dalam gaya hidup kesalehan?

Sekali lagi, pada hakikatnya, jika mau jujur, pemaknaan keberagamaan seseorang tidak terdapat dalam teks-teks ritual. Namun, sesuatu yang baru muncul saat ritual itu dilaksanakan dalam pergulatan hidup keseharian, dalam realitas obyektif yang terus berubah. Di sanalah muncul berbagai pertanyaan spiritual yang menantang keberagamaan kita semua.

http://www.kompas.com/utama/news/0511/01/182806_.htm

0 Comments:

Post a Comment

<< Home


Counters