Narapidana kucing
Dari Kompas Minggu....where else?
Isu hantu cekik yang bergentayangan belum kunjung surut di wilayah Semarang
sekitarnya. Bahkan, penyebaran isu makin meluas. Bila awalnya, sekitar tiga
minggu lalu, isu ini hanya merebak di wilayah Demak dan sekitarnya, sejak
beberapa hari terakhir meluas sampai di Kabupaten Semarang dan Kota
Salatiga.
Kebenaran tentang isu hantu cekik memang masih dipertanyakan. Sejumlah
pihak menilai hantu cekik sekadar isu yang dibuat kelompok tertentu untuk
mengalihkan isu tentang pengejaran teroris yang pada saat bersamaan juga sedang
hangat di wilayah Semarang dan sekitarnya.
Namun, sebagian masyarakat meyakini isu itu memang benar adanya.
Jatmiko (42) dan Tulus (25), dua warga Desa Blerong, Guntur, Kecamatan Demak,
adalah dua dari sekian banyak warga yang percaya tentang hantu cekik.
Bahkan, keduanya mengaku telah menangkap jelmaan hantu cekik yang
berubah jadi dua ekor kucing, pekan lalu. Mereka menunjukkan dua ekor kucing itu
kepada masyarakat. Wujud kucing itu memang bisa dilihat dengan mata telanjang
dan nyaris tak ada bedanya dengan kucing biasa.
Kucing yang konon jadi-jadian
itu diserahkan ke sebuah pondok pesantren di Bawen, Kabupaten Semarang, untuk
dikembalikan ke asalnya.
”Kalau asalnya manusia, maka kembalilah menjadi manusia yang baik. Dan,
kalau asalnya adalah binatang, maka kembalilah menjadi binatang yang tidak
mengganggu manusia,” ujar Jatmiko, si penangkap kucing.
Tak pelak, warga sekitar dan penghuni pondok pun heboh. Mereka ingin
tahu seperti apa kucing ”si hantu cekik itu” yang membuat geger warga Demak dan
Semarang itu. Lucunya, warga sekitar meminta sang pengelola ponpes untuk segera
menggelar ritual tayuh (pengakuan—Red) bagi ”si kucing siluman” itu.
Melihat kondisi tersebut, aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Bawen tak
tinggal diam. Sepasang kucing itu dibawa ke Markas Polsek Bawen. Dua kucing
warna hitam itu pun diletakkan di sel tahanan.
”Kami mengamankan dua kucing itu hanya untuk menjaga dan terciptanya
iklim kondusif di wilayah Bawen. Khususnya di kalangan masyarakat sekitar lokasi
ponpes di Kampung Bapang I,” tutur Kepala Polsek Bawen AKP Sundowo seusai
mengamankan dua kucing heboh itu.
Dikhawatirkan, ritual tayuh bakal memicu
konflik horizontal antarwarga seputar ponpes. ”Saya khawatir akan terjadi
tawuran antarwarga yang pro dan kontra terhadap isu tertangkapnya kucing siluman
itu. Yang kontra merasa keberadaan sepasang kucing itu bisa menimbulkan
perbuatan syirik,” ujarnya.
Meski kucing sudah ditahan, keinginan masyarakat sekitar melihat kucing
siluman tersebut tak putus. Nyaris tiap hari dua kucing itu dikunjungi puluhan
orang. Jauh lebih banyak dibandingkan dengan pengunjung para tahanan lainnya
yang notabene adalah manusia.
Usut punya usut, setelah ditunggu beberapa hari, dua kucing itu
ternyata tak kunjung berubah wujud menjadi siluman seperti ditakutkan warga.
Akhirnya, pihak kepolisian melepaskan kucing-kucing itu setelah menginap tiga
hari di hotel prodeo. (HAN)
0 Comments:
Post a Comment
<< Home