Pikiran ttg revisi UU Kewarganegaran
Mula2 keluarin yang di kepala gua: Tajuk Rencana Kompas maunya terlalu PC dan nutupin semua celah, malah jadinya ga jelas dan plin plan. Yah Kompas memang gitu...plin plannya ampun. Dan suka ga jelas. Paling ga Republika sama Suara Pembaruan punya posisi.
Jelas gua bikin essay ttg Holocaust dan Modernitas, belajar tentang anti-Semitisme (Semit bukan hanya Yahudi, tapi berbagai bangsa di Timur Tengah...tapi yang orang Eropa abad 19 tau emang cuma Yahudi), yah udah jelas lah lumayan banyak kesamaannya sama anti-Tionghoa di Asia Tenggara (bukan cuma Indonesia).
Gua inget waktu 2004 gua begitu nasionalis. Mungkin gua masih nasionalis. Buat gua nasionalisme itu adalah nasionalisme sipil - tanpa goblok2an Lemhanas/P4, tanpa identitas Islam, sekarang gua tambahkan - tanpa asimilasi. Gua setuju banget dengan Zygmunt Bauman, gurunya dosen gua dan subyek dari essay gua - asimilasi adalah pembunuhan.
Gua bangga Dimas dan Tito, sebagai orang Jawa, lebih dulu setuju integrasi daripada gua. Kita (orang Tionghoa dan non-Tionghoa) diajarin integrasi itu jelek, bagusnya asimilasi. Tapi kembali kayak topik disertasinya Charlotte - apa itu budaya Cina? Apa itu identitas Cina? Apa itu budaya Indonesia? Apa itu identitas Indonesia ('pribumi', 'Melayu', atau whatever the name is, setengah dari total gen gua, gua lompatin di sini).
Gua juga seneng beberapa bulan lalu gua berhasil meyakinkan Papa tentang integrasi. Emang beliau selalu takut integrasi larinya ke counter-rasisme. Buat gua, apa bedanya integrasi Tionghoa dengan integrasi Batak, Madura, atau Melayu yang dimaklumi rasa kebangaan etnisnya oleh Jawa? Gua mulai belajar kalo tanah bukan harga mati. Manusia selalu berpindah-pindah. Mungkin harga mati itu etnis...atau kebangsaan...atau ras. Dan bangsa Indonesia adalah bagian dari ras Asia. Menurut post-modernisme (Bauman lagi), nggak ada yang namanya harga mati. Gua sendiri yah Modernis Romantis.
Mungkin karir gua nantinya spesialisasi ke Hubungan Internasional Asia Timur. Mungkin di saat yang sama gua jadi aktivis hak Tionghoa, seperti orang lain jadi aktivis perdamaian atau hak perempuan.
Yah, gua lega gua tetep seorang nasionalis.
Listening to: Tokyo Jihen - Kao
0 Comments:
Post a Comment
<< Home