Gadis Arivia dan Politik "Pajangan"
Gadis belajar model penggalangan seperti ini dari Jepang. Organisasi perempuan dan organisasi kemasyarakatan di Jepang menolak kehadiran basis militer di Okinawa. Mereka mengajak warga Jepang memasang iklan yang menolak kehadiran basis militer itu. Publik Jepang sudah jenuh karena bertahun-tahun tentara di basis militer kerap memerkosa penduduk di sana. "Saya terkesan, mereka bisa pasang iklan berlembar-lembar di beberapa koran. Ribuan orang menolak kehadiran basis militer itu," ujar Gadis.
Mengaku tertarik jender justru berangkat dari dunia akademis. Gadis yang mulai mengajar di Departemen Filsafat Universitas Indonesia merasa beruntung mengenal Prof Dr Tuti Herati Nurhadi, dosen pembimbing yang memintanya meneruskan mengajar mata kuliah pilihan paradigma studi wanita. Pada saat itu mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut baru tiga orang. Belum banyak yang tahu tentang feminisme, Gadis pun masih meraba-raba. Namun, berkat bimbingan Prof Tuti dan ia pun dikirim belajar, Gadis makin tertarik dan memperdalam studi feminisme ini.
"Kalau kita mengembangkan etika politik yang bersih dan tidak korup, etika politik yang benar-benar menghargai individu, menghargai nilai-nilai kebebasan, keadilan, dan keberagaman, saya yakin bukan hanya kelompok perempuan yang akan maju, tetapi juga kelompok minoritas."
Lalu kenapa banyak partai politik tidak berkembang ke sana?
"Karena politik etikanya tidak ada. Ketika partai politik melakukan korupsi, dia bukan hanya korupsi materi, tetapi korupsi pemikiran. Dia menjadi mandek dalam berpikir kritis. Begitu kita mengambil uang yang bukan hak kita, bukan hanya kerugian uangnya itu dampaknya, tetapi juga pada jiwa dan pemikiran kita. Seluruh tubuh menjadi sakit."
0 Comments:
Post a Comment
<< Home