Saturday, September 09, 2006

Gadis Arivia dan Politik "Pajangan"

Aktivitas Gadis yang mengantarkannya meraih Tasrif Award dari Aliansi Jurnalis Independen adalah upayanya yang getol membuat iklan Aliansi Mawar Putih, sebuah aliansi masyarakat sipil yang prihatin dengan keberagaman, kesetaraan, dan keadilan yang mulai terinjak-injak. Gadis pun terkejut, ternyata ribuan orang sangat peduli.

Gadis belajar model penggalangan seperti ini dari Jepang. Organisasi perempuan dan organisasi kemasyarakatan di Jepang menolak kehadiran basis militer di Okinawa. Mereka mengajak warga Jepang memasang iklan yang menolak kehadiran basis militer itu. Publik Jepang sudah jenuh karena bertahun-tahun tentara di basis militer kerap memerkosa penduduk di sana. "Saya terkesan, mereka bisa pasang iklan berlembar-lembar di beberapa koran. Ribuan orang menolak kehadiran basis militer itu," ujar Gadis.

Mengaku tertarik jender justru berangkat dari dunia akademis. Gadis yang mulai mengajar di Departemen Filsafat Universitas Indonesia merasa beruntung mengenal Prof Dr Tuti Herati Nurhadi, dosen pembimbing yang memintanya meneruskan mengajar mata kuliah pilihan paradigma studi wanita. Pada saat itu mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut baru tiga orang. Belum banyak yang tahu tentang feminisme, Gadis pun masih meraba-raba. Namun, berkat bimbingan Prof Tuti dan ia pun dikirim belajar, Gadis makin tertarik dan memperdalam studi feminisme ini.

"Lagi pula, partai politik bagi negara yang baru berdemokrasi masih sebatas mengunggulkan kepentingan kekuasaan dan tidak melihat kepentingan yang lebih besar. Tidak heran kalau kita menyaksikan sosok-sosok politikus yang membuat muak rakyat. Para politikus kita tak mampu keluar dari kekuasaan, tidak mampu berpikir lebih global, lebih luas. Akhirnya kita kecewa. Ini membuat rakyat cenderung tak percaya dengan politikus yang tak pernah menepati janji-janjinya."

"Kalau kita mengembangkan etika politik yang bersih dan tidak korup, etika politik yang benar-benar menghargai individu, menghargai nilai-nilai kebebasan, keadilan, dan keberagaman, saya yakin bukan hanya kelompok perempuan yang akan maju, tetapi juga kelompok minoritas."

Lalu kenapa banyak partai politik tidak berkembang ke sana?

"Karena politik etikanya tidak ada. Ketika partai politik melakukan korupsi, dia bukan hanya korupsi materi, tetapi korupsi pemikiran. Dia menjadi mandek dalam berpikir kritis. Begitu kita mengambil uang yang bukan hak kita, bukan hanya kerugian uangnya itu dampaknya, tetapi juga pada jiwa dan pemikiran kita. Seluruh tubuh menjadi sakit."

0 Comments:

Post a Comment

<< Home


Counters