Mario no Hibi

Friday, September 30, 2005

Padang Bunga Jepang

Listening to: スキマスイッチ : 全力少年
Reading: Otobiografi Oei King Hian, dokter gigi Soekarno

Phara: Gua makan malem sama Sawung Jabo.

Orangnya kalem, pengetahuannya luas, dan OPTIMIS. Dia gampang liat segi positif.

Berkumis, masih pake bandana, gondrong. Istrinya jauh lebih sopsthicated, Bahasa Indonesianya sangat bagus. Ketemu dia gara2 tadi pagi Tito cerita wayang cybernya Heri Dono (bener ini namanya, pasti dari sekolah dia udah bosen diledek namanya), gua tadi sore nonton itu aja setelah karaoke sama gadis2 ABC (Australian Born Chinese) batal.

Syukurlah Sawung Jabo optimis. Karena beberapa jam sebelumnya gua ngobrol sama Bela Kusuma (selalu ingetnya Bela Nusantara), bekas staff Bank Dunia. Pesimis banget sama Indonesia. Ga tau juga apa karena Sawung Jabo Jawa Timur jadi ngomongnya ga sepedes Bela Kusuma, Batak Sunda, hehe.

Bukan Setan-Malaikat ya, tapi di tengah kebingungan gua tentang taun depan (satu sisi gua cinta budaya dan masyarakat Indonesia, sisi lain diri gua lagi di tengah padang bunga Jepang), ada dua pendapat berbeda tentang Indonesia dari orang2 yg saling menghargai (mereka juga duduknya sebelahan di depan gua) dan brilian. Gua udah dua kali ketemu Bela, waktu SBY ke seminarnya Asialink sama waktu dialog Indonesia-Timtim di La Trobe.

Optimisme Sawung (Sawung? Sawung Kampret?) gua ambil sepenuhnya lah. Sementara dari Bela dia ninggalin pesen ke gua:

"Jangan pernah kehilangan prinsipmu."

Dan apa artinya prinsip, apa artinya teorinya Imagined Communities Anderson dan debat di Ajangkita kalo gua lagi tenggelam di padang bunga Jepang? Gua lagi pengen punya pacar, bukan memperbaiki Indonesia. Damn krisis BBM, damn perlawanan korupsi. Gua pengen punya cewek yg gua pegang tangannya, yg dengan tenang menunjukkan kelemahan argumen gua, yang berdiri bareng di kereta.

Penawar luka malem ini lumayan gampang. Tinggal ketik satu e-mail pertemanan.

Tapi ada dua duri lain di dalem hati gua yg sakit sekali, satunya satu sebab gua ga suka Australia. Gua pengen hilangkan duri ini.

Di tengah taman bunga Jepang, bisakah gua menatap kenyataan yg bernama Indonesia?

Monday, September 26, 2005

Brisbane hari 1

Note: Foto2 nyusul nanti kalo gua udah di Melbourne lagi.

Listening to: Shena Ringo - ga tau judulnya.
Reading: Soe Hok Gie - Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan

Hari ini gua ke Brisbane. Berhasil ngelewatin chaos security di airport, di pesawat duduk di sebelah dua businessmen. Huh. Kebiasaan naik Singapore Airlines, sekarang di sini ga ada channel J-pop :p.

Turun di Brisbane, ya dijemput rombongan, satu supir, satu sesama dua turis Melbourne dan dua pribumi Brisbane. Sambutan pertama, koper dimasukkin ke mobil, pintu bagasi ditutup. Kunci mobilnya di dalem koper. Asik kan?

Gua culture shock. Bener gua culture shock. Terlalu lama di Melbourne gua tinggal sendirian, terlalu lama di Melbourne gua main sama orang2 dewasa, sama Jepang udah pada kerja.

Jadinya gua kaget lagi ngadepin anak2 happy go lucky gini. Yang pada telepon2 melulu, ngomong sembarangan.

Siangnya ya ke rumah anak2 happy go lucky, nyobain martabak, terus liat2 City Brisbane.

Bagus2. Bener2 kota hiburan yang cocok buat turis. Ah tapi namanya turis, baru sehari aja liat. Turis di hari pertama di Melbourne pasti juga berpikir yg sama.

Dan yg struck gua tentang Brisbane adalah banyak banget Jepangnya. Memang gua udah pernah denger, tapi ya baru liat :p. Beda sama Melbourne dan Sydney daerah kekuasaan Indonesia, Singapore, Malaysia, HK...

Makan siang di Satay Club, makanan Peranakan Malaysia/Indonesia. Sorenya ke Botanical Gardens. Cocok buat lokasi video clip Naif nih, taman luas dengan kembang2 gini. Abis kita ke pinggir sungai, barulah seru, penuh orang2 joging dan ngebut naik sepeda.

Waktu magrib ujan. Gua tinggalin jaket di 'hotel' karena siangnya panas, keujanan deh. Sedaap. Pulang naik ferry, bau got banget di haltenya. Dari ferry jalan kaki ke rumah tempat gua nginep, temen dari temennya Dita.

Gua dapet e-mail dari nama Jepang subject thank you, udah happy banget, kirain Mari (maunya...) taunya Sachi. O ya ya, kan gua kirim fotonya dia kemaren.

Tentang Mari, gua ga boleh paksain keinginan gua kayak dulu2. Tapi yg pasti, apapun jadinya nanti, gua punya potensi temenan baik dengan dia.

Memang ini bukan blog renungan :p.

Sunday, September 25, 2005

Gebetan baru?

Listening to: ケツメイシ- さくら
Thinking: OMG....

Gebetan baru?

Dua entry terakhir gua hanya gua masukin ke Blogger, ga ke Friendster. Ya gua pengen yg baca ini hanya temen2 deket gua, yg pasti pembaca setia Greg dan Phara. Lagian soal pribadi ini ga bisa gua masukin ke blog Friendster, apalagi setelah si Ratu Aneh (yang sekarang gua sebelin) mulai aktif lagi di FS.

Namanya Mari, dari kota Sapporo, kota terbesar di Pulau Hokkaido. Masih SMA, taun depan lulusnya. Lagi program pertukaran pelajar 4 bulan ke Australia.

Dia tinggal di rumah bos LSM tempat gua magang. Rambut item pendek. Waktu gua ke rumah bos gua dia ga ada, baru ketemu Sabtu kemaren.

Dan langsung cocok. Cocok dalam arti kita ngobrol banyak. Dia ngajarin gua bikin origami, terus gua tanya dia paling suka pelajaran apa di sekolah.

Bahasa Inggris dan Tata Negara.

Gile bener2 ga percaya gua.

Dia mau kuliahnya (rencana di Tokyo) juga jurusan Hubungan Internasional.

Gile bener2 ga percaya gua.

Anaknya bener2 baik, tadi gua liat ke semua pengunjung dia kasih suvenir origami bikinannya. Tadi dia nulisin 'Ma Ri O' huruf katakana.

Gini deh, anaknya open tapi kalem. Tadi waktu mau pulang dia bilang kalo gua ada waktu tolong e-mail dia. Gua tadi sore iseng2 add dia ke MSN, langsung liat OL. Mati mati, orang nick gua lagi judul lagu itu (bacanya Sakura), avatar gua lagi origami yang kemaren dia bikin. Dia seneng banget kemaren gua pasang lagu2 J-pop, tadi pagi begitu dateng langsung dia minta gua pasang lagu itu.

Anaknya masih bubudakeun, mainnya sama anaknya bos gua, tadi sore lumayan bikin bt ibunya, mereka main2 terus sampe kita tinggal.

Untung lagi Away statusnya, gua buru2 offline. Hihihi jadi gua yg 'gadis pemalu'. Berarti gua mesti secepetnya ganti avatar MSN Messenger.

Desember gua pulang ke Indonesia, dia pulang ke Jepang. Gua udah tinggal bikin tugas akhir, dia Januari nanti masih pake seragam schoolgirlnya di Sapporo (Tahun ajaran selesai di Jepang kan bulan Maret).

Ayaaaa what I have done to myself....ngegebet lagi...tau ngegebet itu bisnis bikin pusing, deg2an dan stress...

Ngegebet anak SMA pulak. Alamak!

PS: Dulu gua pikir Ratu Aneh belagak Jepang. Ternyata dia belagak Amerika. Persis adik kelasnya, Agnes Monica.

Saturday, September 24, 2005

Secret admirer

Listening to: Mocca - Secret Admirer

Gua lagi jadi secret admirernya 2 cw Jepang...satu masih SMA, bener2 kayak Shinobu Maehara (Love Hina)...satu lagi dewasa, Sosialis.

Thursday, September 22, 2005

Kitab omong kosong

Di tengah-tengah api terdapatlah matahari
Di tengah tengah matahari terdapatlah bulan
Di tengah-tengah bulan terdapatlah terang
Di tengah-tengah terang itu terdapatlah Siwa
Pusat adalah api,
jantung adalah matahari,
empedu adalah bulan,
paru-paru adalah terang itu,
pembuluh utama ialah Siwa
Di sanalah tempat bagi Dia yang tak bersubstansi,
tempat Dia yang tanpa anggota,
tanpa bentuk,
tanpa warna,
tanpa noda,
tanpa keutamaan,
tanpa kesalahan,
yang kosong,
jernih,
Hampa tanpa sisa

Seno Gumira Ajidarma, Kitab Omong Kosong, Yogyakarta, Bentang, 2004, hlm.77.

Hilangkan diskriminasi legal etnis Tionghoa

Catatan: Gua sejauh ini bukan pendukung PAN dan nggak bermaksud mempromosikan program PAN.

Makasih buat Papa yang nunjukkin artikel ini (dari Kompas 19 September)



Hilangkan Diskriminasi Legal Etnis Tionghoa

Fraksi PAN di DPR Berjanji Akan Memperjuangkan


Jakarta, Kompas - Segala bentuk diskriminasi terhadap suku bangsa (etnik) Tionghoa atau China Indonesia harus dihilangkan. Penghapusan diskriminasi legal itu sedikit banyak akan membantu penghilangan diskriminasi secara sosial.
Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia Prof Dr Parsudi Suparlan mengemukakan itu dalam Seminar Nasional ”Posisi Suku Bangsa Tionghoa
dalam Masyarakat Majemuk Indonesia” di Jakarta, Sabtu (17/9).

Dalam acara yang diadakan Forum Demokrasi Kebangsaan (Fordeka) itu tampil Ketua Umum Partai Amanat Nasional Soetrisno Bachir, Ketua Umum Partai Perhimpunan Indonesia Baru Sjahrir, dan pengamat politik Tionghoa, Leo Suryadinata.
Parsudi Suparlan memilih menggunakan istilah suku bangsa ”China Indonesia” ketimbang suku bangsa Tionghoa. Istilah Tionghoa lebih berasosiasi dengan negara asal suku bangsa ini sehingga dianggap ”orang luar”. Istilah China Indonesia menimbulkan kesan suku bangsa ini seperti suku bangsa lain di
Indonesia.


Namun, penggunaan istilah ini kami serahkan kepada Bapak-bapak dan
Ibu-ibu sekalian, ujar Parsudi.

Penggunaan istilah China tersebut sempat diprotes seorang peserta karena sudah lama tidak dipakai. Kenyataannya di masyarakat, istilah China dengan dialek masing-masing tetap dipakai. Parsudi mengemukakan, hingga kini diskriminasi, baik legal maupun sosial, masih dialami suku bangsa China Indonesia. Diskriminasi muncul karena posisi orang China Indonesia sebagai minoritas di Indonesia.
Keminoritasan itu muncul karena orang China Indonesia dianggap orang luar”. Muncul perbedaan jelas antara kami (pribumi) dan mereka (orang luar). Perbedaan tersebut muncul berdasarkan stereotip dan prasangka.


Menurut dia, di masa Orde Baru orang China Indonesia harus ganti nama. adahal, mereka sangat menghormati leluhur. Agama Konghucu dilarang. Walaupun sekarang diperbolehkan, petunjuk operasionalnya belum ada, ujarnya.


Soetrisno Bachir mengemukakan, sejak era reformasi yang dimotori Amien Rais, suku bangsa Tionghoa memperoleh kebebasan berpolitik. PAN sendiri telah berkomitmen mengembangkan kewirausahaan di partainya dengan menggandeng orang-orang Tionghoa yang memiliki kultur kewirausahaan.
Kami bentuk Badan Ekonomi dan Usaha yang dimotori oleh Pak Eddie Kusuma (Ketua Panitia Seminar Red). Ini merupakan solusi strategis dan cepat untuk mengatasi masalah ekonomi bangsa, ujarnya.


Soetrisno berjanji, Fraksi PAN di DPR akan memperjuangkan berbagai undang-undang (UU) yang menghapuskan diskriminasi terhadap orang Tionghoa. UU dimaksud adalah UU Catatan Sipil, UU Kewarganegaraan, dan UU Antidiskriminasi. (BUR/ONG)

Tuesday, September 20, 2005

Identitas

Catatan: Blog ini bebas dari jargon Orde Baru dan polemik suku bangsa.

Pencerahan?

Pencerahan hari ini?

Saat kita bangun kita nggak tau apa yang akan terjadi hari ini. Dan begitulah hari ini.
Hari ini William makan siang jam 11.30. Hari ini Tito ke perpustakaan. Hari ini Dimas makan dulu jam 4.05.

Dan hari ini kebimbangan tentang identitas pribadi gua (mungkin) terjawab.

Benih revolusi 19 September ini mulai saat Sabtu malem gua mikir…secara fisik gua paling suka gadis Tionghoa, tapi dari pengalaman, gua lebih comfort sama gadis pribumi, terutama Jawa.

Dan itulah benih ke peristiwa-peristiwa hari ini. Gua ngobrol sama Tito dan William. Menyenangkan sekali, open mind sekali, terbuka sekali. Kita jujur pada diri kita, kita jujur pada istilah, kita merayakan identitas kita sebagai pemuda Jawa, pemuda Tionghoa Sunda Jawa, dan pemuda Inggris Jawa yang berkewarganegaraan Indonesia. Open mind, kuncinya. Kita belajar bersama, membagi pengetahuan, opini.

Hari ini juga terbukti gua masih sangat nasionalis. Gua reflek menyanggah dosen gua yang bilang Belanda dan Perancis ga mendirikan universitas di Hindia Belanda dan Indocina. Dan dengan tepat dia membalas sanggahan gua kalo ITB bukanlah universitas, hanya politeknik.

Hal lain yang gua renungkan dari ‘reflek’ itu. Gua ga memaksakan ‘ Indonesiabagus’, ‘
Indonesia ga boleh dicela’. Sama sekali tidak. Gua hanya berpegang pada kebenaran fakta, fakta sejarah, sejarah dunia. Ya ya tidak tidak. Simple.

Indonesia sekarang keadaannya begini bukan salah gua, Indonesia sekarang keadaannya gini adalah urusan gua, Indonesia sekarang keadaannya begini adalah proses sejarah. Bukan hal baru, bukan murni hal yang disebabkan pemerintah sekarang. Tiga kejadian - perdamaian di Aceh, harga BBM, kurs Rupiah bukan murni karena kesalahan kebijakan pemerintahan sekarang. Semuanya proses kejadian dunia, proses yang saling berkaitan, bukan hasil program tadi malem.

Kembali ke cerita gua. Hari ini gua berkesimpulan bahwa gua adalah pemuda Indonesia, bersuku Tionghoa-Sunda-Jawa. Tiga suku ini adalah tiga menjadi satu, tiga-tiganya nggak terpisahkan. Gua secara fisik paling mendekati Tionghoa. Jadi Tionghoa itu nggak lebih baik atau lebih jelek. Jadi Tionghoa adalah jadi Tionghoa. Diskriminasi, rasisme? Fakta hidup. Rasisme dari Tionghoa juga ada, juga parah. Bukan mata balas mata, tapi nggak ada yang lebih baik, nggak ada yang lebih mulia.

Gua akan mengalami diskriminasi hukum di Indonesia. Gua akan menerima penolakan dari orang-orang Jawa dan Sunda. Lalu dimanakah gua akan merasa aman? Nggak dimana-mana. Rasa aman, rasa damai itu adalah air. Tak berbentuk, tak berwujud, tapi ada dan kuat.

Dan abadi.

Sekali lagi ini bukan ramalan masa depan. Gua nggak mau bilang pasti kalo gua akan selamanya berkewarganegaraan Indonesia, kalo gua selamanya akan tinggal di Indonesia. Maksud gua, hari ini identitas pribadi gua mungkin telah gua temukan. Gua nggak ada ikatan batin dengan orang-orang berlatar belakang Cina.

Gua ada ikatan batin dengan orang-orang berbangsa Indonesia.

“We are no longer Greeks” kata Herder, cendekia Jerman, salah satu penyusun ide aliran kesusastraan Gothik (maksudnya para cendekia Jerman ga usah ikut2an penulis Inggris dan Perancis yang gila kesustraaan Latin).

“I am no longer Chinese.” kata gua.

“Who are you then?”

“I am Indonesian.”

“What is Indonesian?”

“I am Tionghoan. I am Sundanese. I am Javanese. I am Catholic. I am all of them, I am none of them.”

(Ide dari pernyataan seorang cendekia Inggris di Introduction Cultural Studies karangan Zianudin Sardar “I can say that I am British, Muslim, Asian...what the differences they make on me? I can be one of them and none of them”).

Listening to: Slank feat. Yoon Band – Shout! Asia
Reading: Francis Fukuyama - The End of History and the Last Man
Thinking about: Manifest weekend ini.

Wednesday, September 14, 2005

Prodigy


This is a prodigy.

Kalo biasanya gua kurang menghargai diri, hari ini gua lagi sangat menghargai diri gua. Prestasi belajar gua (dalam kualitas) sangat memuaskan.

Gua gembira banget dengan presentasi tadi sore tentang Liang Qichao. Bukan hanya analisa tentang jurnal perjalanan, tapi gua fokus ke ide2nya tentang nasionalisme Cina, dengan Jepang sebagai model ideal. Dia 15 taun tinggal di Jepang, merasa diri seperti orang Jepang...ya seperti impian gua mungkin. Liang Qichao lewat ilmu politik, Alex Santos (libero timnas Jepang) lewat sepakbola.

Dan kontribusi gua di tutorial (sesudah presentasi) bener2 dipuji tutor. Kemaren gua dipuji tutor karena bukti pemahaman gua ke teori Darwinisme sosial. Ulangan minggu lalu dibalikin, gua dapet 9/10, tertinggi di kelas.

Sabtu lalu, kontribusi gua ke JFP. Kemaren juga gua diajak Tito ke seminar kebudayaan Indonesia di Uni Melbourne, pembicara Aminudin Siregar. Kemaren Bu Yanti puas dengan booking gua, cepet, efisien, pasti, bayar tuntas lagi ^^.

Dan gua membentur kenyataan hari Senen lalu. Gua berantem...debat kusir tepatnya...dengan orang yang bener ga punya otak dan kasar. Bener kata temen gua yang melerai...percuma gua bicara ke dia, karena dia nggak akan mau mendengar dan nggak akan considerate pada posisi gua. Dia nggak akan punya second thought.

Itulah, di saat gua akan kembali ke Indonesia ini, gua membentur lagi orang Indonesia yang kasar, culas, dan cupet. Dimana logika dan diskusi nggak jalan buat dia. Dia nggak punya agenda, nggak punya tujuan, hanya didorong oleh pikiran jelek dan naluri merusak. Karena dari kecil dia udah biasa hidup keras secara sosial (belum tentu secara ekonomi).

Bisa manusia liar seperti ini dapet apa yang gua belum dapet - pacar, kekayaan, pergaulan lepas.
Tapi apakah dia mendapatkan kasih sayang? Apakah dia mendapatkan pengetahuan?

Di magrib gerimis ini...ya kasih sayang gua dapatkan....Papa Mama, kakak, Greg, Dimas, Tito, Kaz, dosen-dosen dan tutor-tutor gua, Jessica, Elise, Indri...
Di magrib gerimis ini.....pengetahuan gua dapatkan.

Sunday, September 11, 2005

Sven Lindqvist

Shut up.

You're making me confused. (dan iya, harusnya hari ini gua baca 4 buku soal Liang Qichao.)

Saturday, September 10, 2005

Sarabai

Pendahuluan: View my profile, click play di 'Audio clip'. Greg silakan ketawa (atau ikutan nyanyi) ^^. Phara, tolong perbaiki audio clip lu.

Bingung dikasih judul apa entry ini, ya udah dari lagu yg lagi gua denger ini.

Lumayan happy hari ini, jauh2 ke Brighton worthwhile juga.

Akhirnya semester ini gua ikut rapat formal, dulu di Legio Maria dan LUNASY, sekarang di JFP. Ya dalam bahasa Inggris karena ada gua sih, lain2nya Jepang. Dan penting juga peran gua di situ :p, terutama ttg nanti gimana JFP di Manifest, bulan depan main ke Ceres (kepake deh koneksi Tito dan Dimas di situ), dan GUA AKAN NGALAMIN NATALANNYA JEPANG ^^^^^.

Dan hari ini aduh, pertama kali gua didebat (dengan sangat baik) soal politik oleh seorang cewek Asia. Gila, bener2 terpesona, gua biarin dia menang. OMG...bener...bener...gimana yah...itu baru definisi 'seksi'. Buset.

Memang Tomomi yg paling jaim, di mobil ya pada ngobrol Jepang, dan ga ada yg ngajak ngobrol gua. Begitu udah pada di train, Nori sama Ai ngobrol bahasa Inggris ke gua tuh...yg gua kaget, Nori ngeluh dia jomblo. Ya merasa ada teman senasib (apalagi Joe udah nggak senasib lagi :p), dan ya tadinya gua sangka dia cowoknya Tomo.

Soal budaya gua memang jauh sama Jepang, tapi soal jalan berpikir...jangan2 sama pulak...

.....


keliatan biasa banget ya blognya?

Ya mungkin gua udah begitu capek merenung, memang beberapa minggu kemaren terlalu aktif ngeblog sampe sekarang udah letih, mungkin lagi ga ada cw inceran...kebanyakan begadang, bangun telat terus, kompor ga bersih2, essay keep coming (dan ga bisa telat, Rabu mesti presentasi)...atau lumayan tuker2 pikiran lewat MSN...

Tapi selalu seperti biasa, blog gua adalah keadaan hati gua yang sebenarnya ^^.

Listening to : Tomoko Kaneda - Sarabai (byon byon byon....)
Reading: Sven Enqvist (?) - 'Exterminate all the brutes'
Thinking: Ke Brisbane, ke Canberra, ke karaoke...

Monday, September 05, 2005

Buat bunga tidurku...

Kupu-Kupu

Lirik oleh Melly Goeslaw

Kecil mungil berwarna/Warna-warni terangi alam/Sentuhan karya indah/Jika tergambar baik/Mata hati melihat/Kau sangat istimewa/Terbang melayang-layang/Menari hinggapi bunga-bunga/Kupu-kupu jangan pergi/Terbang dan tetaplah di sini/Bunga-bunga menantimu/Rindu warna dunia/Anak kecil tersenyum manis/Pandang tarianmu indah/Bahagia dalam nyanyian/Kupu-kupu jangan pergi

Sunday, September 04, 2005

Mengenang Cak Nur

Indahnya pemikiran Mohammad Sobary.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/04/Sosok/2020225.htm

"Dan duka maha tuan bertahta" - Chairil Anwar
"Wahai jiwa yang tenang, masuklah ke dalam surga-Ku"

Thursday, September 01, 2005

Spoiler - GITS SAC 2nd GIG ep. 2


Gue baru nonton tadi sambil dinner...

Seorang pilot helikopter sewaan (kalo jaman sekarang supir pribadi gitoe) pengen ngebunuh bosnya. Macem2 fantasinya, macem2 justifikasinya. Dan dia memang bekas tentara, berpikir kehidupannya sekarang semua salah sistem masyarakat. Dan personifikasi sistem masyarakat itu adalah majikannya. Kurang lebih seperti dulu gua anggep bekas gebetan gua sebagai personifikasi dari semua kultur urban Asia yang gua benci.

Berulang kali ada adegan dia dalam proses membunuh bosnya. Semuanya fantasinya, atau mula2 seolah rencananya. Lalu dia terpesona dengan cem2an si bos, yg jelas2 Mayor Motoko Kusanagi.

Di akhir cerita (ini spoiler, salah sendiri baca), ada berita temennya sesama pilot sewaan, ditahan. Ternyata justru temennya yg anggota organisasi radikal. Temennya yang malem itu bertindak. Dia nganterin Mayor, dan masih berkhayal kalau si Mayor yg ngebunuh bosnya dan lari sama dia.

Jadi katanya Mayor ke timnya "Orang ini cuma bisa ngehayal, takut mewujudkan impiannya. Gua kasian sama orang2 yang nggak mau hidup di kenyataan".

Jadi.....kerjakanlah yang lu khayalin hari ini.


Counters