Mario no Hibi

Thursday, April 27, 2006

Kembali ke kampus, kembali mabal

Listening to: Ratu - Teman Tapi Mesra
Mahasiswa teladan haahahah manaa....

Tapi gua bener teladan loh. Eee gua inget bulan lalu bokap ngobrol sama Pak Wahid, Konjen RI di Melbourne, katanya "Mario itu rajin, idealis, vokal". Yah waktu itu juga sampe gua mau nanya ke Menpora Adyaksa soal "nasionalisme relijius"nya dibungkem sama moderator.

Tadi gua ketemu Elise, dia minjemin Hana Yori Dango. Sayang laptop uzur gua debil, begitu baca langsung launch WMP, terus kalo distop, hang deh laptop :p. Tapi gua udah kepikir sebuah solusinya. Which involves William's PC. Komplit HYD sama Gokusen OVA. Elise lagi suka komedian Jepang, Hard Gay.

Dia bilang dia merasa kayak sempainya gua, padahal 4 taun lebih muda. Er iya sih. Jelas gua juga merasa William yg 5 taun lebih muda itu sempainya gua. Gua mabal sampe jam 2, ngobrolin Jepang sama dia. Terus nyantai ke kuliah, yg dateng juga mungkin cuma 10 orang. Ini baru namanya kuliah Honours.

Terus nyelesaiin satu buku soal TKI di Jepang, mau pulang...gua lagi iseng, gua ke kuliahnya Herman Wanggai deh, itu OPM yg naik perahu ke Australia. Inggrisnya pas2an, idenya juga pas2an...cuma bisa maki2 Indonesia tapi udah, ga punya ide jelas cara kemerdekaannya, ukuran kekuatannya, policy ttg Papua Barat. Istrinya, Vera...lupa siapa....lebih pinter. Udah mau cerita pemerkosaan masal, eh si Herman bego nerjemahinnya 'prostitution'. Ada juga anak Oz nanya, apa ada pembalasan TNI waktu mereka dapet visa dari Australia, Herman balik ke cerita ngerebus batu (apaan coba). Onceee bener. Sampe bekas dosen gua, Alberto, nanya balik pake Bahasa Melayu (dia India Malaysia).

Wanggai cerita lagi soal ngerebus batu. Gpp...I don't feel my time wasted...yah kalo gini beneran tuh OPM ga bisa ngapa2in.

Golnya Shevchenko kata gua sah, garing juga sih, biarpun iya gua lebih berat ke Barcelona.

Essay pertama due besok.

Monday, April 24, 2006

Happily living alone

What's your excuse this time, Mar...

MSN Space belum dikerjain juga, laporan Indo-Japan Night belum diketik, belajar bahasa Jepang kapan....

Excuse gua sibuk belajar. Hehe, bener. Aduh, itu juga deg2an tadi malem laptop tau2 hanging2an.

Anyway, iya, gua lagi menikmati saat2 kesendirian. Alhamdullilah...bisa juga kesendirian itu dinikmati. Sebetulnya pikir2 gua masih on time buat essay kali ini, dulu2 kan ngaret terus essaynya. Sebetulnya pikir2 gua juga ga usah takut jomblo atau kesepian sih.

Kemaren bantu2 Hari Kartini di Konjen satisfying juga, somewhat somehow. Padahal yg ikut cuma 4...satunya ce Australia yg manis pake kebaya. Terus ya gua lagi slacking mode gitu, untung...eeee....mbaknya Batak apa ya nyebutnya...Santi helpful banget. Sketsa erotisnya juga keren2, ide2 yurinya begitu romantis.

Rasanya memang hari2 mahasiswa gua mendekati akhir, diliat dari temen2 gua. Ada yg tesisnya mesti jadi bulan depan, ada yg baru jadi mami (selamaaat), gua juga jelas juga udah bosen belajar di Melbourne.

Selalu merasa untung gua merasa lebih stress soal hidup sehari2 ketimbang soal belajar.

Listening to: Mika Nakashima - Glamorous Sky

Friday, April 21, 2006

Selasa, 11 November 1969

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.

Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.

Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi.

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Baghdad.

Ada bayi-bayi yang mati lapar di Jawa.

Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.

Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.

Mari sini sayangku.

Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.

Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung.

Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak'kan pernah kehilangan apa-apa.

- Soe Hok Gie, dengan perubahan

Wednesday, April 19, 2006

Membaca dengan teliti

Inget forward Friendster yg banyak salah eja, terus katanya kita bisa baca dan ngerti tanpa ejaannya harus bener?

Masalahnya ini headline Kompas hari ini: "Markus Haluk Diperiksa".

Berapa kali gua bacanya "Mahluk Halus Diperiksa".

Listening to: Yui - Tokyo (pagi2 kok melankonis)

Sunday, April 16, 2006

Makasih Pak Ariel...

Mereka tidak hanya memboyong otak cerdas yang bisa meningkatkan mutu diskusi kelas atau debat publik di Indonesia, mereka juga memboyong uang sekolah dan biaya hidup yang jumlah totalnya sulit dibayangkan. Selain Rp 200 juta per tahun per orang untuk uang sekolah dan biaya hidup, ada ribuan orangtua mereka yang menyusul serta membeli rumah dan apartemen di Australia. Warga asing dari Indonesia menjadi pemilik properti menonjol di Singapura dan Australia.

Ada persamaan di antara pencari suaka Papua, para siswa dan mahasiswa kita, dengan warga Aborijin di Australia. Semuanya lebih suka tinggal di negeri sendiri kalau saja mereka yakin akan mendapatkan apa yang mereka butuhkan dalam menghadapi globalisasi.


Counters