Mario no Hibi

Wednesday, November 30, 2005

Bulletin board asik

1. halo!= Hai hai

2. boleh nanya?= GA!
(udah, klik Send. That's all)

3. yang terakhir kamu makan apa?= Nasi goreng XO

4. besok kamu mau kemana?= Transmigrasi ke Thornbury

Begini. Gua kena rasia pendatang waktu naik trem...abis dilepas polisi, gua dideportasi dari City...terus gua ngadu ke Komnas HAM di Collins St...dicari jalan keluarnya transmigrasi ke luar Ibukota. Untung gua kenal orang Jawa, namanya Arsisto, dia transmigran di Thornbury. Ya gua ikut ke sana aja. Mudah2an ga ketemu mbah.

5. sesuatu yang paling berkesan di hatimu?= Gua selalu jujur ke diri sendiri

6. kamu dari mana tadi?= Kensington

7. ngapain tadi disana?= Ke notaris buat dibikin sertifikat STTB & NEM (yang ini beneran). Pulangnya nyobain Blue Sky Cafe di Chinatown, deket Nam Loong 2

8. sebutkan 3 sahabatmu!= Samurai Jawa.Udah pas, 3.Tinggal ditambah Sancay Manado
jadilah LaTrobe 5

9. baju yang paling kamu suka?= Chobits, TBI, Tintin in Jogjakarta, Asterix in Jogjakarta, Lucky Luke in Jogjakarta, Doraemon in Jogjakarta, Naruto in Jogjakarta...pokoknya semua yang Jogja Jogja deh.

Salam buat Kak Ria, Fadly, Rapa dan Phara yang mencintai Jogja sepenuh hati.

10. ukuran sepatu kamu?= 43

11. sebutkan 3 orang yang akhir akhir ini beradadisekitarmu!= Samurai Jawa minus Tito sama Bu Ambyo (makasih Bu bantuin pindahan...)

12. habis ini apa yang mau kamu lakukan?= Beresin kamar kerja, beresin dapur

13. apa yang lagi kamu pakai?= Mozilla Firefox

14. yang ada didepan mata kamu sekarang apa?= debu

15. apa yang barusan kamu denger?= Judy and Mary - Sobakazu

Salam buat William Tan dan Indri, penggemar Batousai Sang Penyayat.

16. hal yang paling kamu benci?= SSB

17. dirumahmu, ada brapa lampu menyala?= Ini masih siang mas, jadi nggak perlu pake lampu.

18. hal yang ingin dilakukan tapi gak kesampaian?= Bisa packing semua CD dan kaset ke Bandung.

Stupid beacukai...

19. hal yang paling kamu suka?= Cew...
euh, coklat

19. yang barusan lewat?= paling tram ke Melbourne Uni

20. 3 hal yang ingin kamu miliki!=
Ijazah Honours
Sobat Jepang (onna preferred)
T-shirt suporter Korea Selatan yg warna merah...tulisannya "COME ON YOU REDS!" lu punya kali.

Thursday, November 24, 2005

Soe Hok Gie vs Mario Rustan

Sebuah Tanya

...apakah kau masih berbicara selembut dahulu
menintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipis pun turun pelan-pelan
di lembah kasih, lembah mendalawangi
kau dan aku tegak berdiri
melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Soe Hok Gie, 1 April 1969


Hari ini
Hari ini
Kumerasa menjadi seseorang
Selalu kutunggu
Kau disampingku
.

Mario Rustan, 31 Maret 2005

Kemana aja Mar?

Oha,

Log harian gua ada di blog Friendster gua
http://mariorustan.blogs.friendster.com/a_live_action_manga/ tiap hari diupdate.

Ya ginilah. Udah beres kuliah malah makin sibuk.

Dan gua makin banyak stress, makin banyak kesel, makin gampang nangis...

Gua mikir juga what if gua ga ngambil Honours:

1. Packing semua buat pulang, ga bisa asal2an, semua harus sesuai standar ISO

2. Gua udah kehilangan Tito, sebentar lagi kehilangan Dimas, terus William, terus Sabrina, terus Elise, terus Mari, terus Bu Kaz, terus Anna, terus Ai, terus Sachi, terus Joe Camilleri, terus Robert Manne, terus Nella (mbak TUnya Politik yg kata Dimas kayak bintang telenovela), terus Michael Connors.

3. Gua ga bisa nulis tentang kebijakan hankam Jepang di kawasan Laut Kuning dan Laut Cina Timur sebagai anak kandung gua, karya emas setahun.

4. Gua ga tau kapan lagi ketemu cewek Jepang

5. Yah, gampangnya gua udah S1 dengan nilai2 keren...terus ya recovery di rumah, entahlah soal kerja.

6. Kembali ke iklim berpikir dimana nilai2 feodal (definisinya Mao Zedong) dan kemunafikan agama dan kebodohan tetap berkuasa, dibarengi pemberontakan dari cara berpikir kritis, liberalisme, dan suara minoritas yang ingin mengembalikan nilai-nilai kebenaran beriman. (very interesting!)

7. Kembali ke masyarakat Asia.

Damn, it's not that much better :p.

I will survive. I just know it.

Baca blognya Greg dan Joezer sekarang...hmm...ya gua inget lagunya Blur, The Universal.

"And it really really could happen..."

Percayalah, terang akan datang di saat yang tepat
Dan malaikat di atas bumi bercahaya...

- Pure Saturday: Nyala

Friday, November 11, 2005

Day 3

Day: Chat sama Dimas sampe tengah hari tentang masa depan kita. Lucu juga mikir 20 taun lagi gimana kita. Ngembaliin 'not extending lease' slip ke resepsionis. Apartment aneh ini pengen tau kenapa gua ga perpanjang kontrak. Nyuci. Makan siang: Spicy Noodle Cafe's Chef Special Fried Rice (nasi goreng tomat pake kismis dan daun bawang dan lemon, telur dan ayam goreng.

Night: Seger banget abis tidur siang. Ngeteh, makan Tango, nonton Global Village tentang festival pasola di Sumba. Nonton GITS SAC 2nd GIG, nangis. Nyetrika, nelepon2 soal pindahan. Ada e-mail dari JfP tentang mereka mau apply hibah dari pemerintah Jepang, dan mau bikin pesta Kurisimasu sebelum gua pulang. Berkali2, perempuan2 Jepang ini selalu jadi contoh baik semangat dan idealisme. E-mail dari Michael Connors, dia ok tentang supervising. Dia minta gua udah tau banyak tentang topik gua saat ketemu nanti. Uso. Mulai besok harus mulai baca Japan Times sama Asahi Shimbun. Ngobrol sama Abby, dia bener2 suportif dan pengen gua jadi dosen. Sedih juga, Indonesia, negeri dengan penduduk ketiga terbanyak di Asia, sarjana ilmu sosialnya lebih dikit dibandingkan Cina dan India! Cina loh, yang secara politik masih negara otoriter! Makan malem: Sama kayak siang. Porsinya gede sih.

Listening to: Bana - Half Pain (Witch Hunter Robin ED)

Wednesday, November 09, 2005

Day 1

Siang: Dimas ngambil barang2nya. Nyetir Landcruiser pinjeman. Stress juga mikir barang2 gua banyak banget. Ngembaliin buku ke Melbourne Uni, pulangnya lewat dua Asian groceries, ga ada yg jual beras. Depan apartment liat couple berantem. Makan siang: Mie Goreng Rendang.

Malem: Tidur2an sampe jam 7, jalan ke Coles Melbourne Central. Couple lain berantem depan apartment. Ketemu ibu2 Korea kenal di gereja. Belakang gua dua ce Jepang di antrian kasir. Nonton Azumanga #25, terus e-mail dosen2 (satu ngebales dari Bangkok, semenit abis gua suratin). Papa SMS tentang tembak2an di Batu, Jatim. Mati matilah lu, Azahari. Dengerin CD Jay Chou. Makan malem: Masak kari sama makan leci kalengan. Kalo mau makan leci atau lengkeng kalengan, carilah produk Thailand, lebih enak dari produk Cina.

Dengerin: Megumi Hayashibara - Kimi Sae Ireba (Hinata Sou ED)

Tuesday, November 08, 2005

Drs. Mario Rustan

Tadi UAS terakhir.

Terus minum2, gua minum segelas Stella Artois sama setengah gelas Carlton. Ngobrol sama temen HI, Molly Anggo, bapaknya orang Papua. Ngobrol sama dosen, lumayan dia bisa ngebantu enrolment program Honours.

Pulang naik bis sama Liane, gebetan di HI dulu, blasteran India. Ngobrolin dosen, masa2 kul HI dulu, politik. Di City ngajak makan malem William. Waktu makan biasa aja ngobrolin anime, game, cewek. Jalan kaki pulang juga biasa aja, kayak baru pulang kuliah.

Setelah masuk rumah baru engeuh.

Gua bukan mahasiswa lagi.

Listening to: Harvey Malaihoho dan Sheila Madjid - Begitulah Cinta

Sunday, November 06, 2005

Asal Usul Kompas hari ini


Fariduddin Attar, guru Jalalluddin Rumi, penyair dan sufi terbesar dari
Persia, menuturkan kerinduan sekelompok burung terhadap raja mereka. Maka,
mereka pun sepakat menunjuk Hud-hud, burung yang bijak, sebagai pemimpin.

Hud-hud memberi tahu, yang mereka cari itu burung Simurgh, dalam bahasa
Persi, artinya tiga puluh burung, yang hidup tersembunyi di gunung Kaf, tempat
yang jauh, dan berbahaya. Untuk mencapai tempat itu mereka harus menempuh lima
lembah dan dua gurun sahara.

Mendengar cerita itu, mereka yang berjiwa lemah, yaitu Nuri, Merak,
Angsa, Bangau, Bul-bul, dan burung Hantu, mengemukakan berbagai alasan untuk
tidak ikut.

Si Nuri yang egois, memilih mencari ”cawan suci”, Merak, si burung
surga, lebih baik menanti panggilan kembali ke surga, Bul-bul, yang merasa
memahami rahasia cinta, menumpahkan cintanya pada bunga mawar, dan Bangau,
pencinta air, membual:
”Cintaku pada air membuatku selalu termenung di tepi
pantai, namun aku toh tak setitik pun meminum airnya, karena khawatir begitu aku
minum, samodra raya itu langsung kering kerontang.”

Hud-hud memberi rangsangan dengan cerita mengenai petualangan menarik
dalam perjalanan ke Gunung Kaf, di istana raja mereka.

Karena itu, perjalanan pun dimulai. Tapi baru saja menempuh dua lembah,
mereka mengeluh, dan merasa gentar membayangkan perjalanan selanjutnya.

Satu-satunya jalan agar mereka mengerti dan sadar, Hud-hud, harus terus
terang bahwa mereka harus menempuh tujuh lembah dan gurun, yang semuanya
memikat, simbolik, dan bermakna secara rohaniah. Burung-burung itu pun merasa
gembira dan bersemangat lagi.
Kali ini korban berjatuhan. Ada yang mati
karena udara sangat panas, ada yang tenggelam di laut, ada yang kelelahan, ada
yang kehausan tak berdaya. Dan ada pula yang tersesat.

Sisanya tetap meneruskan perjalanan hingga tiba di Gunung Kaf yang
mereka impikan. Di pintu gerbang mereka diperlakukan kasar oleh para penjaga.
Tapi mereka sudah terbiasa dengan kesukaran. Maka, pelayan pun menjemput, dan
menunjukkan mereka jalan ke ruang Baginda.
Di dalam, burung-burung itu
keheranan karena mereka memasuki ruang hampa, luas tak terbatas. Dalam termangu
mereka saling memandang. Di mana Baginda raja yang mereka rindukan? Di sana
mereka temukan Simurgh, tiga puluh burung, yang ternyata diri mereka
sendiri.

Dalam kerinduan mencari sang raja, ternyata mereka hanya menemukan diri
mereka sendiri.
”Sang raja tersingkap di dalam cermin kalbu-kalbu mereka
sendiri,” kata Attar.

Wednesday, November 02, 2005

Tantang keberagamaanmu

Agama, apabila harus direnungkan, sebenarnya tidak cukup hanya menjalankan ritual. Agama lebih dari itu, sebagai penghayatan rohani, bagaimanapun amat dibutuhkan interpretasi, perspektif, dan kesadaran yang dinamis. Sebab, seperti puasa, orang bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk sambil berharap mendapat pahala dan ampunan-Nya meski tanpa harus memetik perspektif kesadaran yang bersifat emansipatoris.

Dari mana semangat emansipasi semacam itu bisa muncul dalam ibadah puasa, meski mereka yang melaksanakannya dengan perjuangan spiritual yang gigih berhasil menahan lapar dan dahaga di siang hari, toh kebanyakan teks makna puasa yang disampaikan para dai dan ustadz tidak menyentuhnya ke wilayah itu.

Akhirnya, semua tergantung kita. Dari sudut pandang mana kita hendak memberi makna ritual yang dilakukan sendiri, apakah puasa dimaksudkan sebagai penyucian dosa, atau sebagai mekanisme refleksif guna memperluas pandangan hidup, atau bisa juga bagian untuk sekadar memperkuat pencitraan diri dalam gaya hidup kesalehan?

Sekali lagi, pada hakikatnya, jika mau jujur, pemaknaan keberagamaan seseorang tidak terdapat dalam teks-teks ritual. Namun, sesuatu yang baru muncul saat ritual itu dilaksanakan dalam pergulatan hidup keseharian, dalam realitas obyektif yang terus berubah. Di sanalah muncul berbagai pertanyaan spiritual yang menantang keberagamaan kita semua.

http://www.kompas.com/utama/news/0511/01/182806_.htm


Counters